Di tengah-tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan sel punca (stem cell) di dunia maupun di Indonesia, Sel Punca terus mengalami perkembangan. Di Indonesia sendiri, penelitian tentang sel punca manusia sudah banyak sudah banyak dilakukan oleh sejumlah peneliti di berbagai pusat penelitian di Indonesia.

Dalam acara Seminar dan Kongres Nasional II Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI) yang bertema “Indonesia Stem Cell Summit” di IPB International Convention Center Bogor, Ketua Panitia Arief Boediono mengatakan, “Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan sosialiasi penelitian dan pengembangan sel punca di Indonesia baik dari ilmu dasar maupun yang terapan serta memperkuat kerjasama diantara peneliti sel punca Indonesia,” ujarnya.

Dia menambahkan dengan kegiatan ini diharapkan akan terjadi harmonisasi dan sinergi yang kuat di antara para peneliti dan institusi baik dari pemerintah maupun swasta yang mendukung penelitian dan pengembangan sel punca di Indonesia.

Pada kesempatan yang sama Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemristekdikti, Muhammad Dimyati mengatakan bahwa tuntunan besar masyarakat serta meningkatknya akses masyarakat terhadap kesehatan telah mengakibatkan berbagai kemajuan dunia kesehatan.

Stem Cell merupakan salah satu bidang yang cukup menarik dan menjajikan bagi masyarakat yang banyak sekali membutuhkan dan semoga dapat bermanfaat bagi masyarakat Indonesia khususnya,” ujar Dirjen Risbang pada Sabtu (6/2/2016).

Dimyati meneruskan bahwa Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi tentang pengobatan sangat berkembang pesat, sejalan dengan penemuan pengobatan yang baru. Stem Cell ini merupakan salah satu temuan yang luar biasa menjanjikan dan pengobatan ini termasuk terobosan baru serta jawaban dari sebagian jenis penyakit yang belum dapat disembuhkan dengan berbagai metode konvensional.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sel punca sampai saat ini telah mencapai kemampuan untuk proses isolasi, pengembangan, serta penyimpanan sel punca yang diperoleh dari berbagai jaringan tubuh dewasa.

Beberapa aplikasi klinis dari penelitian sel punca juga sudah mulai dilakukan, seperti terapi sel punca pada infark jantung, kerusakan jaringan tulang rawan (kartilago) pada osteoartritis, luka bakar, penyakit neurodegeneratif, serta terhadap efek-efek lainnya seperti penuaan (aging) dan nilai estetika.

Diharapkan para peneliti serta pegiat sel punca dapat saling bertukar pengalaman sehingga dapat saling memanfaatkan sumber daya yang ada secara efisien dan efektif dalam menghasilkan produk sel punca yang dapat dimanfaatkan masyarakat dan riset-riset sel punca akan menjadi tulang punggung kesehatan Indonesia. (ard/bkkp)

Galeri